Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains: Cooperative Learning

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu.

Hello guys👋🏻kembali lagi dengan saya Yuyun Lestari. Disini saya akan membagikan ulasan pertemuan kedua mata kuliah Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains yang diampuh oleh Bapak Dr. Drs. Syamsurizal, M.Si.

Pada pertemuan kedua ini kita membahas tentang Cooperative Learning. Mari kita bahas lebih lanjut apa itu Cooperative Learning.

◼◻ Prinsip Cooperative Learning:

1. Positive Interdependence

Peserta didik bekerjasama, memberikan kritik dan saling melengkapi. Contohnya peserta didik 1 tidak yakin dengan konsep yang dia pahami jika tidak ada penguatan dari peserta didik 2, Peserta Didik 1 mengkritik peserta didik 2 dengan menyampaikan pandangannya terhadap permasalahan tersebut.

2. Individual Accountability

Peserta didik memiliki tanggung jawab atau sadar kontribusinya dalam proses belajar. Setiap peserta didik harus berkontribusi dalam memecahkan masalah kelompoknya,sekalipun ide yang diberikannya sangat konyol, karna bisa dikembangkan lagi dengan saling berdiskusi.

3. Group Processing

Mencoba mengkritisi apa yang sudah kita sepakati, mencari kekurangan, kelebihan dan memberikan solusi.

4. Interpersonal and Social Skills

Peserta didik pandai bergaul dan percaya akan kemampuan dirinya atau karakter personalnya.

5. Promotive Interaction

Peserta didik memberikan interaksi positif terhadap kekurangan dan kelebihan teman belajarnya.

◼◻ Manfaat Cooperative Learning Terhadap Peserta Didik:

1. Increased Autonomy

Meningkatkan kemandirian belajar.

2. Increased Independence

Memberikan kebebasan mengemukakan pendapat di dalam kelompok belajar.

3. Heightened Self-Confidence

Memperkuat rasa percaya diri.

4. Transfer Of Knowledge

Saling berbagi pengetahuan (Tahu, paham dan terampil).

5. Higher Level Reasoning

Memiliki argumentasi yang kuat.

6. Increased Productivity

Produktif, karena saling melengkapi dengan bekerjasama.

7. Higher Student Achievement

Kesuksesan dilihat dari seberapa banyak orang yang memahami ide kita atau banyak yang sudah kita kuasai dan bermanfaat untuk orang lain).

◼◻ Teacher's Role:

1. Before The Lesson

∞ Guru harus bisa meyakinkan individu peserta didik untuk berkontribusi dalam proses belajar dan berkaitan dengan pengalaman nyata, sehingga mampu memperkuat ide atau gagasan.

Guru mampu menempatkan siswa sesuai dengan kepribadiannya. Peserta didik yang kemampuannya rata-rata dibagi menjadi kelompok besar dan peserta didik yang kemampuannya di bawah rata-rata dibagi menjadi kelompok kecil. Guru harus menjadi mitra belajar peserta didik.

Guru harus menyiapkan modul Ajar atau panduan belajar.

2. Developing Students Social Skills

∞ Memberikan pandangan-pandangan kepada peserta didik.

∞ Membantu memberikan solusi dan membantunya.

∞ Melatih mendengar.

◼◻  Teamwork Skills:

1. Forming Skills 

2. Functioning Skills

3. Formulating Skills

4. Fermenting Skills

Dalam membuat kelompok belajar harus dengan keberagaman masing-masing individu, yaitu ada yang memiliki level kompetensi hampir sama dan ada juga yang berbeda jauh. Nah untuk kemampuan kompetensi yang berbeda jauh ini sering mematikan aktivitas belajar berkelompok, karena ada beberapa peserta didik yang diam aja, jadi proses belajar tidak hidup. Jika proses belajar didominasi oleh satu peserta didik saja, maka proses belajar itu sia-sia, karena dari perbedaan itulah yang membuat kita terpacu untuk terus belajar. Jadi dalam kelompok belajar, bukan peserta didik yang memiliki level kemampuan kompetensi lebih tinggi mengajari peserta didik yang memiliki level kemampuan kompetensi rendah, tetapi peserta didik yang memiliki level kemampuan kompetensi rendah yang berusaha belajar lebih lagi.

Menurut teori fokus belajar sendiri itu bertahan selama 15 menit dan esensi belajar atau kesadaran untuk berubah tidak tumbuh. Dalam proses belajar, jika guru terlalu mendominasi maka peserta didik akan merasa tidak nyaman, bosan dan tertekan, karena perbedaan pengetahuan yang terlalu jauh. Tetapi dengan kelompok belajar yang heterogen, mereka bisa saling bekerjasama dan proses belajar menjadi lebih hidup.



See you next chapter and thank you guys🙏🏻

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu.

Komentar

  1. Mantap kak👍sangat bermanfaat🙏

    BalasHapus
  2. Saya izin bertanya kak, kenapa kelompok belajarnya harus terdiri dari peserta didik yang heterogen?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena dengan kelompok belajar yang heterogen, mereka bisa saling bekerjasama, mengemukakan pendapat, ide atau gagasan, berdiskusi, saling mengkritik dan proses belajar menjadi lebih hidup.

      Hapus

Posting Komentar